KONON, tersebutlah sebuah kisah dua orang bersaudara yang ingin membuat sebuah kampung. Adapun dua bersaudara itu bernama Datuk Topo dan adiknya Siak Pokia. Maka, berangkatlah mereka menuju ke sebuah bukit yang dikelilingi oleh sebuah sungai. Bukit itu kelak bernama Bukit Dusun Seberang.
Karena letaknya yang sangat jauh, berhari-hari mereka berjalan. Tak peduli sinar matahari yang terik dan menyengat. Tak mundur oleh basah disiram air hujan. Tak hirau oleh dingin udara malam. Masuk hutan keluar hutan, mengarungi rawa dan menyeberangi sungai. Belum lagi binatang buas yang setiap saat menjadi ancaman mereka. Apabila tekad sudah bulat, segala rintangan bak tak terlihat. Begitulah perjalanan mereka ke bukit itu.
Setelah sekian lama berjalan, akhirnya sampailah mereka di atas bukit. Mereka mengamati suasana di bukit itu. Setelah mengamati dengan sungguh-sungguh. lalu Mereka beristirahat di bawah pohon tembusu yang daunnya sangat lebat. Sambil istirahat mereka bermusyawarah, walaupun bersaudara mereka tetap bermusyawarah untuk memutus suatu perkara. Baik perkara-perkara besar maupun perkara-perkara kecil. Begitulah adat mengajarkan.
“Bagaimana pendapat engkau tentang bukit ini? Apakah bagus untuk dibuka perkampungan?” Tanya Datuk Topo kepada adiknya, Siak Pokia.
Udara di bukit itu sangat sejuk, angin menerpa dedaunan pohon tembusu dengan lembut. Sekali-sekali terdengar kicauan burung tiung. Menambah kenyamanan dan kedamaian suasana di Bukit Dusun Seberang.
“Setelah mengamati segala seluk-beluk bukit ni, sangat cocoklah untuk dibuka dibuat perkampungan,” kata Siak Pokia. Dia terdiam sejenak. Pandangan tertuju ke arah sungai. Menikmati pesona keindahan yang terlahir dari sungai itu. Meliuk-liuk seperti ular besar yang merayap, pikirnya lagi.
“Apalagi tempat ini tak jauh dari sungai, sangat cocok untuk sebuah perkampungan,” sambungnya.
“Kalau begitu kata engkau, kita buka kampung di sini,” putus Datuk Topo.








