Walaupun hampir setiap hari Panglima Ibrahim, Dayang Nasimah dan Siti Nursyarif memasukkan makanan ke dalam lubang, tetapi mereka tidak mengetahui secara persis kondisi para penghuni lubang tersebut. Karena saat-saat melakukan tugas tersebut berjalan dalam tempo yang cuku[singkat di waktu matahari akan terbit.
Ketika melihat situasi sudah aman maka Panglima Ibrahim dan Dayang Nasimah sepakat untuk membuka tutup lubang dan mengeluarkan penghuninya. Untuk menghindarkan kesan keberadaan keluarga Raja Pamalayu di tempat tersebut, apalagi dikhawatirkan ada sisa musuh yang masih sakit hati dan ingin balas dendam, maka upaya mengeluarkan penghuni lubang tersebut akan dilaksanakn pada saat subuh setelah semua keperluan untuk meninggalkan Tanjung Palas dipersiapkan.
Setelah semua keperluan didapat dan dipersiapkan oleh Panglima Ibrahim, dan Dayang Nasimah yang dibantu oleh Siti Nustarif, maka pada hari yang ditetapkan setelah melaksanakan shalat subuh, satu persatu dari penghuni lubang dikeluarkan dan langsung dibawa ke perahu. Kecuali Syarifah Ruqayah, semua puteri Raja Pamalayu dalam keadaan lemah dan pucat karena sakit.
Pada saat itu Panglima Ibrahim mau mengajak ketujuh putri ke Siak, namun Sayidah Ruqayah meminta untuk singgah dahulu ke istana menjemput Sayidah Hasanah. Dalam kondisi itu, kondisi tujuh putri semakin lemah. Ketika suasana hari terang tanah, ketika Tanjung Palas belum hilang dari pandangan, Syarifah Alhamdulillah meninggal dunia. Walau tidak menjelaskan urutannya dalam tempo yang singkat puteri-puteri Syarifah Ruqayah yang lain menyusul saudara mereka yang lebih dulu pulang ke pangkuan Illahi. Yang paling akhir berpulang adalah Syarifah Bismillah, ketika perahu sudah berada di pertengahan sungai.
Mengingat pejalanan masih jauh dan panjang, sementara waktu itu hari sudah menjelang ashar dengan pertimbangan bahwa kalaupun dapat membawa jenazah ketujuh puteri ke istana Raja Pamalyu, maka kegemparan akan terjadi. Maka di suatu tempat yang agak tinggi, jauh dari ladang dan rumah, ketujuh puteri dibaringkan. Tempat ketujuh puteri dikuburkan diyakini adalah tempat kilang minyak yang sekarang diberi nama Puteri Tujuh.








