Waktu Yong bekerja di Ketam Putih, bayak orang bercerita tentang ular manau. Jadi teringatlah Yong pada suatu masa dulu ada pembukaan kebun di daerah Bantan Tua. Orang-orang menebang hutan itu untuk meluaskan kebun pinang mereka. Waktu itu, harga pinang lumayan cantik, buah pinang sangat laku.
Banyak orang menebang hutan. Para penebang hutan itu yang paling banyak adalah orang Jawa. Luar biasa orang Jawa bila bekerja. Mereka seperti mempunyai tenaga lebih. Tidak seperti budak-budak kita, banyak duduk daripada kerjanya. Semua orang kalau bekerja waktu tengah hari gad (tepat pukul 12.00 siang), berhenti istirahat. Tapi, orang-orang Jawa ini tidak, mereka seperti tidak tahu waktu. Pokoknya bagi mereka yang penting bekerja.
Ketika Yong melihat-lihat orang sedang bekerja, bagaimana caranya orang Jawa bekerja menebang hutan, tiba-tiba datanglah merayap, tegak, kepalanya pipih. Hingga akhirnya lari semua orang Jawa itu lintang-pukang ketakutan. Karena keadaan Yong berada pada posisi yang tidak menguntungkan, lansung Yong pun lari dan memanjat pokok pinang yang dekat dengan Yong. Pelan-pelan Yong naik (memanjat).
Entah apa pula sebabnya, ular manau itu berhenti di dekat batang pinang yang Yong panjat. Sampai lama Yong berada di atas pokok pinang itu. lama-kelamaan perut Yong pun dah mulai lapar, ular manau itu masih tetap terpanguk tidak mau pergi.
Perut Yong sudah lapar betul, tak tertagak (tidak mampu menahan) rasanya, terus mendekap di atas pokok pinang. Jadi Yong pun terus memutar pikiran, apa akal (berpikir). Ular manau itu tidak mau pergi juga. Sekali Yong ambik buah pinang yang Yong panjat itu. Yong lemparkan pada ular manau yang terpangguk di bawah pokok itu.
Yong Dollah : “Yong lempar-lempar, tak kena, lempar terus, tidak juga kena, sampai habis buah pinang itu, sudah sampai pada buah yang paling kecik, tapi tak kena juga.
Ular manau itu pun tidak beranjak dari tempat ia terpangguk. Ia tetap menunggu Yong yang berada di atasnya. Padahal semua orang jawa yang menebang hutan tadi sudah habis berlari, tak satu pun nampak banyangnya.
Pendengar : “Jadi, apa akal lagi Yong?”
Jadi, tak ada lagi buah di atas, sudah habis semua. Yong tenang sejenak, memejamkan mata. Lalu tiba-tiba Yong teraba terasa memagang buah, tapi kali ini agak lain, terasa lembek (lembut).
Pendengar : “Buah apa Yong, mengapa lembut? Pinang muda?”
Yong Dollah : “Lalu buah yang ada di tangan Yong itu, Yong lempar kuat-kuat pada ular manau itu, sebelumnya Yong baca-baca (berdoa) dulu.
Rupa-rupanya kena, tepat pada hidung ular manau itu. Barulah ular itu lari. Tapi setelah Yong sadar, rupa-rupanya buah tadi itu, buah yang ada pada Yong!
Pendengar : “Jadi, bagaimna buah itu Yong?”
Yong Dollah : “Ada, datang balik, Yong kan berisi (berilmu), Dik!”








