Yong Dollah : “Tuan-tuan tahu?” Sesudah Yong balik dari pusing-keliling di Tanah semenanjung, maka pulang Yong ke Singapura balik.”
Pendengar : “Dari Singapura, ke mana lagi Yong?”
Dari Singapura Yong dan semua anak klasi mendapat perintah dari Kapten untuk bersiap-siap melanjutkan pelayaran ke Macau (Makau) dekat ‘negeri atas angin’ atas Tanah Siam. Negeri Makau ini dikenal orang akan keadaannya (situasinya) yang khas. Baik-baik sikap orang-orang Makau, jantan-betinanya. Orang betina Makau kena (harus) selalu siap apa saja yang kita mau (kehendaki). Sampai-sampai betina orang Makau ini betebaran di negeri kita ini mencari makan. (Pendengar bertatap tekun dengan Yong Dollah menyambung kisahnya).
Yong Dollah : “Tuan-tuan tahu? Kalau di negeri Makau ini tidak sama negeri di mana-mana Yong singgahi, selama waktu Yong saind kapal luar”.
Pendengar : “Apa perbedaannya Yong dengan negara lain?”
Yong Dollah : “Belum kita naiki ke darat, baru sahaja Yong sampai di hujung pelabuhannya, heh betul Dik!”
Pendengar : “Bagaimana yang betul, Yong?”
Negeri Makau memang aneh, sangat luar biasa. Dari kapal sudah nampak baik orang jantan maupun betina, ramai-ramai berjualan apa saja, baik yang digoreng, direbus dan yang dibakar. Semua apa saja yang kita kehendaki sudah ada tersedia di pelabuhan. Tidak ketinggalan orang betinanya.
Ketika Yong tengah tengok kanan-tengok kiri, tiba-tiba ada seseorang berjalan menuju arah Yong yang sedang berdiri sendiri. Dari jauh nampak tangan orang jantan Makau itu tangannya membawa sesuatu. Yong bersiap siagalah, kalau-kalau orang ini membawa malapetaka pulak. Setelah lebih dekat lagi orang jantan itu pada Yong, barulah Yong tahu, rupa-rupanya orang itu membawa sekebat kerjas.
Yong Dollah : “Yong pikir-pikir, kertas apalah yang dibawa oleh orang jantan Makau ini, Yong duga pastilah hendak diberi pada Yong. Rupa-rupanya, Dik, sekebat kertas itu adalah tiket. Tiket apa, tuan-tuan tahu? Tiket hotel! Memanglah tiket itu diberinya pada Yong!”
Di negeri Makau, kita tidak bisa begitu naik ke pelabuhan, langsung peregi manyewa hotel. Kalau kita tidak mempunyai tiket terlebih dahulu, jangan harap kita akan bisa menyewa hotel, tidak akan ada hotel yang bersedia menerima kita. Waktu di pelabuhan itulah tukang tiket memberi pada Yong.
Tukang Tiket : “Tuan nanti bawa ini tiket pergi kita punya hotel. Di hotel Tuan kasih tunjuk ini tiket. Nanti Tuan dikasih tunjuk bilik tempat dengan nomor 27 ini, nanti di dalam bilik orang Dia punya pusat seperti di dalam gambar ini.
Yong Dollah : “Tuan-tuan tahu?”
Sesudah itu, Yong pergi cari kendaraan menuju hotel. Kendaraan itu membawa Yong menuju hotel. Sampai di hotel sesuai dengan alamat yang ada pada kertas tiket itu, Yong tunjukkan pada petugas hotel (receptionis). Petugas hotel langsung menerima dan menunjukkan nomor bilik, dan sesuai dengan nomor yang ada tertulis di atas tiket tadi, yakni nomor 27.
Setelah sampai di depan pintu hotel, penjaga hotel itu memberi isyarat pada Yong supaya Yong tolak pintu bilik itu. Lalu Yong tolak bilik itu.
Yong Dollah : “Hwaaah. Hwaaah, bukan main, Dik!”
Pendengar : “Apa yang ada dalam bilik, Yong?”
Yong Dollah : “Betul, betul, Dik, tepat sekali, sesuai pula dengan nomor 27 begitu juga pusat pada orang yang Yong jumpa dengannya cantik, bulat, macam telur dikupas, licin bedelau hm hm, hm, hm. Tak ada melawan dengan betina Makau. Jadi timbul ingatan Yong seketika itu pada Mak Yong engkau.
Pendengar : “Mengapa, Yong, sampai naik semangat?”
Yong Dollah : “Yong berisi, Dik. Tapi, itulah tuan-tuan. Rasa-rasa macam hendak Yong kunyah-kunyah.
Yong tengok-tengok lagi gambar di tiket yang ada di tangan Yong, Yong perhatikan sungguh-sungguh.
Yong Dollah : “Betul, betul, serupa betul, Dik. Sedikit pun tak berubah. Ahh.. ahh.. ah.. tak dapat nak cakap lagilah! Lalu Yong pandang bulan!”
Hotel di Makau itu tidak seperti di sini (Bengkalis), tilamnya empuk, katilnya pakai per (spring) berhenjut-henjut, terasa macam kita tenggelam kalau baring di atasnya, dan berenag-renang.
Yong masuk pulak bilik mandi, Yong jadi tercengang. Dalam bilik mandi itu bukan main terang, lantai berkilat, dinding-dindingnya banyak gambar-gambar pusat orang betina, lantai bilik mandi itu halus mengkilap. Cerminnya bersih dan lebar. Pokoknya seronoklah di dalam kamar mandinya.
Yong Dollah : “Yong pikir-pikir, memang pandai orang Makau menjaga tempatnya, bersih, supaya hati orang senang. Pendengar : “Ya, tuan Dollah. Kami sudah dengar tuan Dollah punya cerita, banyak yang menarik baru kami tau tuan Dollah sudah banyak sampai di negeri orang, juga sudah sampai di negeri atas angin. Sekarang sudah pukul 03 pagi, kita punya waktu ikut jaga malam ini sudah mau selesai. Terima kasih tuan Dollah punya cerita, lain kali kita sambung lagi. selamat-selamat”.








