Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & SastraUtama

Putri Kaca Mayang (Asal Mula Kota Pekanbaru) – Pekanbaru

×

Putri Kaca Mayang (Asal Mula Kota Pekanbaru) – Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Putri Kaca Mayang. (ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Sampai di gerbang istana, tanpa basa-basi,Panglima Gimpam sudah melompat kepunggung gajah yang semula disipakan untuk melawannya itu. Dengan kesaktian dankeberaniah yang ia miliki, di bawanya kedua gajah yang telah jinak tersebut ke dalam istana untuk deserahkan kepada Raja Aceh. Alangkah terkejutnya Raja Aceh pada saat itu.

“Berani-beraninya kau, masuk istanaku tanpa permisi.” Ujar Raja Aceh.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

“Apa maumu Panglima Gimpam…”

“Kau tentu sudah tahu maksud kedatanganku ke negerimu ini, tentu saja membalas kekalahan kami dulu dan menjemput Putri Kaca Mayang.”

Raja Aceh sangat terkejut melihat keberanian dan kesaktian Panglima Gimpam menjinakkan gajah yang telah dipersiapkan untuk membunuh Panglima Gimpam. Tanpa pikir panjang Raja Aceh mengakui kesaktian Panglima Gimpam dan diserahkannya kembali Putri Kaca Mayang kepada Panglima Gimpam. Rupanya kondisi Putri Kaca Mayang sedang sakit.

Aura wajah bahagia terpancar di wajah Putri Kaca Mayang. Saat ia mengetahui bahwa ia dapat kembali kepangkuan keluarga tercintanya. Walaupun dengan kondisi lemah.

Setelah menerima Putri Kaca Mayang, Panglima Gimpam segera pulang ke Gasib dengan membawa Putri Kaca Mayag. Dalam perjalanan pulang menuju Gasib rupanya kondisi Putri Kaca Mayang semakin memburuk, hembusan angin yang kencang membuanya susah bernafas.

Setibanya di muara sungai Kuantan, Putri Kaca Mayang tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya.

Baca Juga:  Ular Manau-Cerita Yong Dollah

“Panglima Gimpam, aa….ku sudah tidak kuat lagi…..”

“Putri, tahan, sebentar lagi kita akan segera sampai di Gasib dan Putri akan segera bertemu dengan keluarga Putri dan istana…”

“Tapi … rasa sakit ini semakin menjadi-jadi saja, aku rasa aku akan menginggal saat ini juga, sampaikan salamku pada kedua orang tuaku.”

“Putri … Putri… jangan pergi dulu…”

Ajalpun menjemput Putri Kaca Mayang sebelum tiba di Gasib. Putri Kaca Mayang menghembuskan nafasnya sesampai di Muara Sungai Kuantan. Dengan diliputi rasa duka yang mendalam, Panglima Gimpam masih terus melanjutkan perjalanannya membawa jenazah Putri Kaca Mayang kehadapan Raja Gasib.

Suasana duka menyelimuti seisi istana dan penduduk Gasib, karena kehilangan seorang Putri yang baik hati dan ramah. Tak lama Putri Kaca Mayang segera di makamkan di Gasib. Duka masih meninggalkan bekas dalam diri Raja Gasib. Kesedihan menyelimuti kesehatan Raja Gasib semenjak Putri semata wayagnya pergi untuk selamanya. Sekamin hari kesedihannya semakin mendalam.

“Tuanku, janganlah larut dalam kesedihan… hal ini tentu akan membuat penduduk Gasib bersedih…”

“Aku tidak tau mengapa kesedihan ini tak henti-hentinya menggrogoti diriku”

“Janganlah begitu Tuan, Rakyat-rakyat Gasib tentu akan bersemangat kembali jika Tuan kembali seperti yang dulu.

Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam. Untuk menghilangkan bayangan putrinya, Raja Gasib memutuskan untuk menginggalkan istana dan menyepi di gunung Ledeng Melati.

Baca Juga:  Asal Mula Harimau Bukit Datuk-Dumai

Sepeninggal Raja Gasib, Panglima Gimpampun tidak ingin tinggal di istana. Sifatnya yang setia tidak membuatnya ingin menghianati kesenangan diatas kesedihan orang lain. Diapun tidak mau mengambil milik orang lain walaupun kesematan itu ada didepannya.

Panglima Gimpam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru yang kelak dikenal dengan Pekanbaru. Sampai saat ini, makam Panglima Gimpam masih dapat kita lihat di hulu Sungai Sail sekitar 20 Km dari Kota Pekanbaru***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *