Karena Raja Gasib telah sangat mengenal sifat Raja Aceh, maka dipersiapkannya pasukan perang kerajaan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu Raja Aceh menyerang. Panglima yang dipilih raja Gasib tidak asing lagi yaitu panglima Gimpam. Penjagaan diarahkan di kuala Gasib yaitu daerah sekitar muara sungai siak. Rupanya segala persiapan kerajaan Gasib rupanya diketahui oleh kerajaan siak. Kerajaan aceh menyiapankan perlawanan yang lebih kuat untuk mengalahkan kerajaan Gasib keberadaan panglima Gimpan juga diketahui oleh phak kerajaan Aceh, yakni di Kuala Gasib dengan berbagai cara kerajaan Aceh berusaha mencari jalan lain untuk dapat masuk ke Gasib.
Strategi yang digunakan kerajaan Aceh untuk bisa masuk ke Gasib yaitu dengan cara membujuk seorang penduduk Gasib yang tahu seluk beluk Negeri Gasib, sebagai petunjuk jalan mereka. Sebagai anak negeri Gasib, pada awalnya penduduk yang disandera ini idak ingn menghianati neeri tercintanya namun keterpaksaan membuatnya membocokan rahasia. Karena siksaan yang diterimanya membuat penduuk ni tepaksa memberi petunjuk jalan darat menuju ke arah Gasib.
Maka sampailah pajurit Aceh ke Negeri Gasib melalui jalan darat dan tanpa melewati penjagaan panglima Gimpan dan anak buahnya. Padahala kedatangan prajurit Aceh sudah lama dinanti-nantikan prahuit Gimpan dan anak buahnya. Prajurit Aceh mulai memasuki negeri Gasib dan mulai menyerang penduduk, padahal penduduk tidak memiliki persiapan apa-apa dan tanpa permisi desa penduduk diobrak-abrik serta nyawa-nyawa tak berdosa bergelimpangan. Sedangkan, di istana raja Gasib sedang bercengkrama dengan keluarganya. Kedatangan prajurit Aceh bagai disambar petir di siang bolong.
“Ha..ha..ha. Hai kau Raja Gasib, kau terkejut bukan? Melihat kami kini sudah berada didepan matamu.”
“ A..apa yang kalian lakukan kepada negeriku? Tanya Raja Gasib terbata-bata.
“Apa… kau pikir, apa yang kami lakukan, tentu saja aku menghancurkan negerimu ini…ha..ha..ha.
“Ha..kau dasar pengecut, beraninya main dibelakangku saja.”
Pada waktu itu Raja Gasb sangat kebingungan keadaan istana sudah tidak karuan perintah untuk melawan prajurit Aceh sudah terlambat. Semua pengawal tidak sempat melakukan perlawanan karena telah tewas diujung rencong Aceh.
“Hai.. mau kau bawa kemana putriku! Teriak Raja Gasib.
“Ha..ha..ha. tentu putrimu akan aku sandera sampai kau merelakan dia untukku.” jawab Raja Aceh.
“Tidak akan pernah, kau dengar itu! Dia tidak pantas untuk orang sepertimu, Pembunuh.”
“Ayah..ayah. tolong aku” teriak histeris dari mulut putri kaca mayang.
“iya, anakku ayah akan menolongmu” ucap Raja Gasib
Namun dengan sekejab saja Putri Kaca Mayang telah dibawa lari oleh Raja Aceh. Dan Raja Gasib hanya bisa pasrah dan tidak mampu berbuat apa pun. Negeri yang damai dan tenteram kini telah diporak-porandakan oleh prajurit Aceh. Penduduk ang tidak mengetahui apa-apa tewas seketika, sementara keadaan istana tidak menentu arah. Darah-darah prajurit yang setia terhadap Gasib berserakan kemana-mana. Mayat-mayat bergelimpangan disudut istana.
Panglima Gimpan dan anak buahnya datang dari Kuala Gasib. Alangkah terkejutnya beliau melihat kondisi yang tidak pernah ia duga sama sekali. Melihat pasukan Gasib yang sudah bersimbah darah, panglima Gimpan marah sekali dan bersumpah untuk membalas kekalahan Kerajaan Gasib serta membawa kembali Putri Kaca Mayang kembali ke istana.
“Tuanku izinkan saya membalaskan kekalahan ini” Pangeran Gimpan menghadap Raja Gasib. Aku sangat berharap sekali Putri Kaca Mayang dapat kembali ke pangkuanku.” Perintah Tuanku Saijujung” ucap Panglima Gimpan tegas. “sebelum kau pergi bawalah pedang pusaka ini Panglima Gimpam untuk menjagamu dari mara bahaya.”
“Terima kasih Tuanku titah tuan akan aku lakukan.
Saat itu juga Panglima Gimpam berangkat ke Aceh untuk menunaikan sumpahnya itu. Dengan kesaktian yang ia miliki, tak berapa lama sampailah Panglima Gimpam ke Aceh.
Rupanya kedatangan Pangeran Aceh telah terdengar ketelinga Raja. Persiapanpun telah sematang mungkin disiapkan mereka. Di pintu istana telah berjejer-jejer para prajurit Aceh yang siga, beserta dua buah ekor gajah jinak yang besar yang sengaja dipersiapkan untuk melawan Panglima Gimpam.








