Scroll ke bawah untuk melihat konten
Teknologi TradisionalUtama

Peralatan Kerja Melayu Riau

×

Peralatan Kerja Melayu Riau

Sebarkan artikel ini
Ladang. (foto: budayamelayriau.org)

A. Pengertian
Peralatan kerja Melayu Riau adalah keseluruhan peralatan kerja yang diciptakan masyarakat Melayu untuk menyediakan sarana serta barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup. Ketersediaan peralatan kerja diciptakan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan secara turun temurun.

B. Pengelompokan Peralatan Kerja
Peralatan kerja Melayu Riau dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakukan pada sistem ekonomi tradisonal tapak lapan.  Secara garis besar, tapak lapan mencakup 8 pekerjaan yang lazim dikerjakan masyarakat Melayu. Kedelapan bidang pekerjaan tersebut adalah berladang, beternak, menangkap, memanfaatkan hasil pekarangan atau beniro, mengambil hasil hutan dan laut, berkebun, bertukang, dan berniaga.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

1. Peralatan Berladang
Peralatan dalam pekerjaan berladang atau bersawah, mungkin sulit ditemukan di daerah-daerah yang tidak lagi melakukan pekerjaan berladang. Akan tetapi, peralatan pekerjaan berladang tentu masih dapat ditemukan di daerah yang masih melakukan pekerjaan tersebut. Berikut sebagian peralatan yang digunakan dalam berladang.

a) Antan
Alu adalah alat yang diciptakan untuk penumbuk padi, beras, kopi dan biji-bijian sejenisnya. Dibuat dari kayu keras dan liat seperti kayu merbau, tembesu, tempinis, marpoyan, pelawan, kulim, resak, meranti batu, medang, punak. Bentuknya bulat panjang dengan diameter sekitar 25 cm dan panjang sekitar 150 cm. Ujung bagian atas dibuat meruncing dan ujung bawah membulat, untuk memudahkan dalam menumbuk. Alu dipergunakan bersama lesung, sebagai tempat untuk meletakkan bahan-bahan yang akan ditumbuk. Tetapi ada juga alu yang dibuat untuk menumbuk menggunakan tangan.

Baca Juga:  Teknologi Tradisional Tangguk

b) Bajak
Bajak dipakai untuk mengolah tanah sebelum ditanami tanaman. Bajak berfungsi untuk mengangkat dan menghilangkan akar-akar rumput liar, serta menggemburkan tanah. Selain itu, juga bertujuan untuk menyingkirkan  hama-hama tanaman yang mungkin bersembunyi di balik gumpalan tanah. Cara kerjanya yakni membalikkan lapisan tanah bagian atas ke bawah, agar lebih banyak humus. Bajak memudahkan pekerjaan pada waktu menanam.

c) Bakul
Peralatan yang diciptakan dari anyaman bilah bilah-bilah rotan, buluh atau bambu, mengkuang, purun, pandan, rasau, bemban dan lain-lain. Proses menganyam bakul dimulai dari dasar ke atas. Pembentuk tulang pada mulut bakul, menggunakan rotan atau bambu dan dijalin atau diapit. Ukuran dan bentuk bakul berbeda-beda tergantung kegunaan. Bakul untuk mengisi biji-bijian biasanya dianyam rapat menggunakan meng-kuang, pandan, rotan atau buluh. Bakul kecil untuk perhiasan, dibuat dari tumbuhan ribu-ribu atau rotan halus yang dijalin rapi. Bentuk bakul bermacam-macam di antaranya bulat, lonjong, bersegi dan bertingkat.

d) Beliung
Alat atau perkakas yang menyerupai kapak. Biasanya digunakan untuk menebang kayu- kayu besar. Beliung mempunyai satu mata yang diikatkan dengan tali rotan ke tangkai beliung. Berbeda dengan kapak, tangkai beliung hanya sebesar ibu jari orang dewasa dan panjang kurang lebih 1 meter, dengan bentuk sedikit melengkung. Kayu ini diambil dari jenis kayu kuat tetapi juga mempunyai kelenturan.

Baca Juga:  Mata Pencaharian Tapak Lapan

Penggunaan beliung dengan cara diayun, karena tangkai sedikit lentur dan ringan, maka pengguna beliung tidak akan cepat lelah. Menggunakan beliung lebih cepat kerjanya dibanding jenis kapak yang lain.

f) Kepuk, Jelapang
Ruang atau bangsal kecil untuk menyimpan padi. Kepuk juga dikenal sebagai jelapang atau baluh atau rangkiang. Kepuk dibuat dengan berbagai bentuk, ada yang berbentuk bulat yang terbuat dari kulit kayu, ada juga yang dibuat persegi. Kepuk persegi dibuat dari kayu. Lantai dan dinding terbuat dari papan dan atapnya dari daun rumbia atau seng.

Untuk menghindari ancaman tikus dan serangga, kepuk selalu diawasi. Kepuk juga harus terjaga kebersihan dan tingkat kelembabannya. Bila kepuk lembab, maka padi yang ada di dalamnya akan rusak. Penggunaan kepuk biasanya untuk padi yang dipakai sendiri dan bagi datuk-datuk, penggunaan kepuk biasanya untuk diri sendiri dan juga untuk membantu orang-orang susah. Bila persediaan beras telah habis, padi dalam kepuk dikeluarkan sedikit demi sedikit dan disukat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *