‘Menaiki rumah’. Juagan bersiap-siap memanjat pohon sambil menyanyikan lagu berikut:
Di ilei awang di ulu awang (di hilir awang di hulu awang)
Pandan tebuang di tongah-tongah (pandan terbuang di tengah-tengah)
Di ilei kasih di ulu sayang (di hilir kasih di hulu sayang)
Badan tebuang di tongah-tongah (badan terbuang di tengah-tengah)
Begitu mencapai dahan tempat sarang lebah, juagan menyanyikan lagu berikut:
Masak bua kombang mani (masak buah kembang manis)
Masak sabutie dijaut ungko (masak sebutir dijangkau ungka)
Kami batomu nan itam mani (kami bertemu dengan si hitam manis)
Mangulang da’a ke muko (menjulang darah ke muka)
Ketika makin mendekati sarang lebah, juagan menyanyikan:
Bukan elok ulu badik (bukan (main) elok hulu badik)
Untuk pa’uki baling-baling (untuk pengukir baling-baling)
Bukan elok tompat adik (bukan (main) elok tempat adik)
Tompat kito duduk besanding (tempat kita duduk bersanding)
‘Bertemu si gadis’. Ketika juagan telah di dekat sarang dan akan mulai menyingkirkan lebah-lebah, juagan menyanyikan lagu berikut:
Anak buayo mudik mendudu (anak buaya mudik mendudu)
Iyak sampai di pelabuhan (riak sampai di pelabuhan)
Putih Kuning bukakan baju (Putih Kuning bukakan baju)
Abang menengok betubuhan (abang menengok petubuhan)
Lalu juagan mengusap sarang lebah dengan tunam. Percikan api dari tunam diikuti oleh lebah-lebah ke tanah. Lebah-lebah yang jatuh itu tidak mati, dan menjelang siang mereka terbang kembali ke pohon. Setelah lebah-lebah meninggalkan sarangnya dan juagan mulai mengambil madu, ia menyanyikan lagu yang disesuaikan dengan situasi yang dihadapinya. Jika juagan menemukan sarang yang tidak bermadu, ia misalnya akan menyanyikan lagu berikut:
Banyak nyamuk sialang bandung (banyak nyamuk sialang bandung)
Duo kali tu’un ke tanah (dua kali turun ke tanah)
Apo mengamuk ati nan jantung (kenapa mengamuk hati dan jantung)
Itam mani indak di umah (hitam manis tidak di rumah)
Jika juagan menemukan sarang bermadu, ia mengambil lilin lebah, lalu dimasukkan ke dalam wadah yang sudah disiapkan, kemudian diturunkan dengan tali dan disambut oleh pembantu-pembantu yang menunggu di bawah pohon bersama kepala suku.
‘Menyampaikan salam perpisahan’. Bila pekerjaan mengambil madu hampir selesai, juagan menyanyikan lagu perpisahan sebagai berikut:
Apo tensu kayu diimbo (apa tensu kayu di rimba)
Mai ko buat papan penaik (mari kubuat papan penaik)
Adik bongsu jangan baibo (adik bungsu jangan berhiba)
Kolam esok naik balik (kelam besok naik balik)








