Scroll ke bawah untuk melihat konten
Alam & Kearifan EkologiLingkup Materi

Kearifan Hubungan Manusia dan Alam

×

Kearifan Hubungan Manusia dan Alam

Sebarkan artikel ini

Dialogik 

Keterbukaan orang Melayu dalam menjaga alam lingkungannya telah berlangsung lama. Dialog antara manusia dengan alam lingkungannya tergambar dalam berbagai cara orang Melayu memanfaatkan alam dan memeliharanya. Pada kegiatan menumbai misalnya, orang Melayu tidak membunuh lebah yang melindungi madu di sarangnya. Mereka menempatkan lebah sebagai binatang yang patut dijaga dan disanjung. 

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Manumbai adalah kegiatan mengambil madu lebah di pohon sialang yang dilaksanakan dengan serangkaian prosesi. Kegiatan ini umumnya dilaksanakan pada malam bulan gelap, di lokasi tumbuhnya sialang atau pohon tempat lebah bersarang.

Manumbai dipimpin oleh seorang dukun lobah (dukun lebah) yang disebut juagan (juragan). Ia dibantu oleh dukun sambut, yang bertugas mengumpulkan madu setelah juagan mengambil sarang dari dahan pohon. Di beberapa masyarakat adat, prosesinya dihadiri oleh kepala suku. 

Perlengkapan yang diperlukan antara lain: tunam yaitu suluh atau obor dari daun kelapa kering (untuk mengusir lebah dari sarangnya), tempayan (penampung madu dan lilin lebah), tali (untuk menurunkan tempayan yang berisi madu dan lilin lebah), dan tangga bambu (untuk memanjat pohon). 

Prosesi dilaksanakan dengan melantunkan nyanyian yang syair-syairnya berbentuk pantun,  menggambarkan situasi yang dihadapi dan dijalani oleh juagan. Tema utama prosesi sebagaimana tercermin dalam pantun-pantun ituadalah tamsilan kunjungan sosial seorang laki-laki kepada kekasihnya. Dalam hal ini, lebah dianalogikan sebagai gadis kekasih sang juagan

Baca Juga:  Hutan-Tanah Kayat

Kunjungan sosial tersebut berlangsung secara bertahap, sebagai berikut:

‘Meminta izin berkunjung ke rumah si gadis’. Pada tahap ini, juagan memulai dengan membaca mantera, kemudian perlahan-lahan menepuk batang sialang menunggu jawaban lebah-lebah. Dengung ribuan lebah adalah pertanda juagan diizinkan memanjat pohon. Tetapi jika tidak terdengar dengung, maka pemanjatan harus ditunda. 

‘Mengucap salam dan menghormati tuan rumah’. Setelah mendapat izin, sambil mengelilingi pohon sialang tiga kali, juagan menyanyikan lagu ritual menuo sialang yang berisi penghormatan kepada roh atau “tuan” pohon sialang. Salah satu versi pantun menuo sialang yaitu:

Pinjam tukul pinjam landean (pinjam pemukul pinjam landasan)
Untuk memukul kalakati (untuk memukul kalakati)
Pinjam dusun pinjam laman (pinjam dusun pinjam halaman)
Numpang memain sekolam ki (numpang bermain di kelam ini)

Popat-popat tana ibu (pepat-pepat tanah ibu)
Ma’i popat di tana tombang (mari dipepat di tanah tombang)
Nonap-nonap Cik Dayang tidou (lelap-lelap Cik Dayang tidur)
Juagan mudo di pangkal sialang (juagan muda di pangkal sialang)

Cik Dayang menggulung daun (Cik Dayang menggulung daun)
Tagulung suat katoba (tergulung surat khotbah)
Tujuh musim sombilan tahun (tujuh musim sembilan tahun)
Buat kito jangan diubah (buat kita jangan diubah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *