Scroll ke bawah untuk melihat konten
Kosabudaya

Wayang Cecak

×

Wayang Cecak

Sebarkan artikel ini
Pertunjukan Wayang Cecak. (Foto: https://batam.tribunnews.com)

Khadijah Terung mewarisi sebagian besar pengetahuan tentang Wayang Cecak sehingga dapat diketahui. Ia membuat boneka-boneka dari perca kain sebagai alat bantu bercerita, terutama ketika menjaga anak-anak dan cucu-cucunya. Dalam situasi itulah seni Wayang Cecak bertahan sebagai tradisi lisan dan permainan simbolik rumah tangga perempuan Melayu–Cina Peranakan.

Fungsi dan Nilai Budaya
Wayang Cecak tidak pernah menjadi pertunjukan publik atau hiburan rakyat. Ia berfungsi sebagai:

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten
  1. Hiburan privat di kalangan rumah tangga elite Melayu–Cina,
  2. Media pendidikan moral bagi anak-anak, melalui kisah-kisah hikayat yang sarat nilai keislaman dan kebijaksanaan,
  3. Sarana spiritual yang diyakini dapat menenangkan rumah tangga dan menghindarkan gangguan roh, mengingat pemainnya sering dianggap memiliki pengetahuan mistik.

Nilai penting dari Wayang Cecak terletak pada sifatnya yang lintas etnis dan gender: lahir dari interaksi budaya Tionghoa dan Melayu, dimainkan oleh perempuan, dan dipelihara di ruang domestik sebagai simbol harmoni sosial.

Dalam konteks kajian budaya, Wayang Cecak merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan unik yang mencerminkan akulturasi budaya peranakan antara Tionghoa Selatan dan Melayu Islam di Kepulauan Riau. Pertunjukan ini lahir dari pertemuan sosial dan kultural antara keluarga Kapitan Tionghoa di Tanjungpinang dan kalangan bangsawan atau masyarakat Melayu setempat pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dari interaksi ini, unsur estetika pertunjukan Tionghoa—seperti penggunaan boneka kecil, musik ringan, dan narasi dramatik—berpadu dengan tradisi Melayu yang kuat dalam syair, pantun, dan dongeng lisan.

Baca Juga:  Syair Ikan Terubuk

Secara fungsional, Wayang Cecak menunjukkan pergeseran makna dan peran seni pertunjukan. Pada awalnya, bentuk kesenian seperti ini berakar pada praktik ritual kolektif dan hiburan komunal, yang diiringi oleh musik dan nyanyian untuk mempererat hubungan sosial masyarakat. Namun, dalam konteks masyarakat Tionghoa-Melayu peranakan di Kepulauan Riau, pertunjukan ini kemudian berubah menjadi hiburan rumah tangga privat, dimainkan di lingkungan keluarga elite atau perempuan rumah tangga, terutama sebagai sarana pelipur lara, pengantar cerita, dan media pendidikan nilai-nilai moral.

Selain itu, Wayang Cecak juga menegaskan peran perempuan sebagai penjaga warisan estetika lisan dan simbol keseimbangan rumah tangga. Tokoh seperti Khadijah Terung, satu-satunya perempuan yang diketahui mahir memainkan Wayang Cecak hingga pertengahan abad ke-20, memperlihatkan bagaimana perempuan tidak hanya menjadi pelaku domestik, tetapi juga pelestari dan penafsir nilai-nilai budaya lintas etnis. Melalui suara, gerak, dan narasi, mereka menjaga kesinambungan tradisi tutur, menjadikan Wayang Cecak bukan sekadar hiburan, tetapi juga manifestasi identitas kultural yang hidup di ruang privat perempuan Melayu-Tionghoa di Kepulauan Riau.

Dari sisi antropologis, seni ini menjadi bukti bahwa interaksi ekonomi (melalui perdagangan dan perkawinan campuran) turut melahirkan bentuk sinkretisme budaya baru di dunia Melayu Kepulauan.

Kondisi dan Pelestarian
Setelah wafatnya Khadijah Terung pada dekade 1950-an, tradisi Wayang Cecak tidak lagi ditemukan sebagai praktik hidup. Hingga kini, kesenian ini diketahui hanya dari penuturan lisan dan catatan sejarah lokal, terutama naskah yang disimpan oleh Yayasan Indera Sakti (Tanjungpinang).

Baca Juga:  Anyaman

Upaya pelestarian sedang dilakukan melalui penelitian etnografi dan rekonstruksi budaya Melayu–Tionghoa oleh lembaga kebudayaan Riau, dengan harapan seni ini dapat didokumentasikan dan dikembangkan kembali dalam bentuk pertunjukan modern berbasis identitas peranakan.

Rujukan:
Amanriza, Pe Ediruslan dan Junus Hasan. 1993. Seni Pertunjukan Tradisional Daerah Riau. Pekanbaru
Netscher, E. 1854. De Nederlanders in Djohor en Siak 1602–1865. Batavia: Landsdrukkerij.
Salmon, Claudine. 1985. Literature in Malay by the Chinese of Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography. Paris: École Française d’Extrême-Orient.
Yayasan Indera Sakti. 1983. Naskah Perhimpunan Gunawan bagi Laki-laki dan Perempuan, Koleksi No. 09.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *