Scroll ke bawah untuk melihat konten
Kosabudaya

Wayang Cecak

×

Wayang Cecak

Sebarkan artikel ini
Pertunjukan Wayang Cecak. (Foto: https://batam.tribunnews.com)

Wayang Cecak adalah bentuk seni pertunjukan rumah tangga (domestik) yang pernah hidup di kalangan masyarakat Tionghoa Peranakan di wilayah Tanjungpinang dan Daik Lingga, Kepulauan Riau. Pertunjukan ini merupakan hasil akulturasi kebudayaan Melayu dan Tionghoa, yang berkembang di lingkungan sosial keluarga Kapitan Cina pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Meskipun disebut wayang, bentuk pertunjukan ini berbeda dari wayang kulit atau wayang golek di Jawa. Wayang Cecak lebih menyerupai teater boneka kecil (miniatur) yang dimainkan oleh perempuan di ruang rumah tangga, menggunakan boneka perca kain berukuran sejengkal. Pertunjukan disertai nyanyian, pantun, dan cerita rakyat Melayu klasik, serta kadang dikombinasikan dengan unsur dongeng dan kepercayaan mistik.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Asal-Usul dan Latar Sosial
Keberadaan Wayang Cecak berkaitan erat dengan hubungan sosial antara keluarga Kapitan Cina di Tanjungpinang dan masyarakat Melayu Penyengat dan Lingga. Dalam catatan sejarah (Netscher, De Nederlanders in Djohor en Siak, 1854:128), pada tahun 1852 di wilayah hukum Tanjungpinang terdapat 1.165 orang Cina berusia di atas 12 tahun, terdiri atas dua kelompok besar:

  1. Suku Kwantung (Guangdong) yang bermukim di Sengarang (dikenal pula sebagai Seberang), dan
  2. Kelompok lain yang tinggal di pusat Tanjungpinang.

Kedua kelompok ini berada di bawah kepemimpinan seorang Kapitan Cina. Sejak tahun 1818, Kapitan Tua Tan Hoo berhasil mendamaikan pertikaian antara dua kelompok tersebut, sehingga kedudukannya meningkat di mata pemerintah Hindia Belanda dan Kesultanan Riau–Lingga.

Baca Juga:  Zapin Api

Pergaulan antara perempuan Melayu bangsawan dan istri serta anak-anak Kapitan Cina menumbuhkan hubungan budaya yang intens, melahirkan pertukaran kesenian rumah tangga, termasuk seni Wayang Cecak ini. Fenomena serupa juga tercatat di Jawa, di mana kaum perempuan Tionghoa miskin mengembangkan tradisi bernyanyi dan mendongeng di rumah-rumah para nyonya terkemuka, seperti dicatat oleh Claudine Salmon (1985:30).

Bentuk dan Unsur Pertunjukan
1. Boneka dan Properti
Boneka Wayang Cecak dibuat dari perca kain yang dijahit membentuk tokoh manusia, berukuran kira-kira sejengkal tangan (±20 cm). Setiap boneka memiliki atribut sederhana seperti selendang, mahkota kecil, atau pakaian warna-warni, menandakan perbedaan karakter antara tokoh raja, putri, hulubalang, atau dayang.

Panggungnya berupa ranjang miniatur kayu atau meja kecil yang berfungsi sebagai pentas. Boneka digerakkan dengan tangan secara langsung tanpa tali atau batang, sambil disertai cerita yang dilagukan.

2. Cerita dan Lagu
Cerita-cerita yang dibawakan biasanya berasal dari syair dan hikayat Melayu klasik, seperti:

  • Syair Siti Zubaidah Perang Cina,
  • Hikayat Selindung Delima,
  • Syair Bidasari, dan
  • Cerita Panji versi Melayu.

Pemain akan melantunkan potongan syair, diselingi dialog pendek antara tokoh boneka. Iringan musik sangat sederhana — biasanya tabuhan meja, tepukan tangan, atau gambang kecil yang menghasilkan bunyi ritmis.

Gaya pementasan ini menjadikan Wayang Cecak sebagai bentuk hiburan domestik perempuan, mirip dengan wayang cokek atau nyanyian gambang rumah yang berkembang di Jawa dan Betawi pada masa kolonial.

Baca Juga:  Mamanda

Pemain dan Tradisi Lisan
Sampai dekade 1940-an, pertunjukan Wayang Cecak di Pulau Penyengat hanya dikuasai oleh satu orang perempuan, yaitu Khadijah Terung, salah seorang istri dari Abu Muhammad Adnan. Ia dikenal memiliki pengetahuan luas tentang kesenian, dan karena itu suaminya pernah memintanya menuliskan berbagai ilmu rahasia yang kemudian disusun dalam naskah Perhimpunan Gunawan bagi Laki-laki dan Perempuan (koleksi Yayasan Indera Sakti, No. 09, 1983).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *