Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Ayam Ditelan Ular-Cerita Yong Dollah

×

Ayam Ditelan Ular-Cerita Yong Dollah

Sebarkan artikel ini
Yong Dollah. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Pada suatu pagi orang-orang sedang asik berkawal (bedaga-jaga) dan ada yang bercerita tentang kegiatan musuh, baik di Bagansiapi-api maupun di Tanjungpinang. Di mana-mana orang sibuk bercerita tentang musuh. Lalu Yong masuk saja dekat orang-orang berkumpul itu. Di antara mereka, Yong membawa cerita baru.

Yong Dollah   : “Jangan marah, ya? Yong pagi ini terlambat sampai di sini, sebab ada hal sedikit di rumah. Habis, habis, Yong punya cemas tak tinggal lagi!”

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Yang Hadir   : “Apa yang habis itu, Yong?

Yong Dollah  : “Habis-habislah. Ayam Yong satu kandang habis semua!

Mula-mula Yong dengar bunyi “keok ayam”, Yong diamkan saja. Pikir Yong tentulah dia sama dia bercatuk. Kemudian tak lama sudah itu bunyi lagi. Yong masih biarkan juga. Lama-lama tak ada bunyi apa-apa. Sunyi, Yong pun paham. Mengapa agaknya ayam-ayam Yong.

Yong pun turun dari tempat tidur. Lalu Yong raba-raba dapat sebilah parang kotong (tidak berhulu). Yong bawa. Yong turun, lalu berputar ke belakang rumah. Yong hendap pelan-pelan. Yong tengok ke reban (kandang) ayam Yong.

Yong Dollah   : “Tak ada suara ayam pun, dalam hati, Yong.

Sekali Yong suluh dengan pontong rokok nipah (rokok yang tembakaunya dibalut dengan janur nipah kering) Yong, barulah Yong tahu.

Baca Juga:  Mahligai Keloyang, Asal Mula Nama Kelayang

Yong Dollah : “Ini rupa binatangnya? Ape lagi, tampak belengko setambun (satu onggokan) penuh sekandang.”

Yang Hadir   : “Apa yang setambun itu Yong?”

Yong Dollah  : “Ular! Bukan main besar ular itu! Perutnya sudah melenen. Kepalanya kecik, ekornya pun kecik. Apa lagi tak lengah, lalu Yong titik kepala ular itu, besembur darahnya sampai terpercik ke baju Yong.

Yang hadir    : “Lalu, Yong?”

Sesudah ular tak bergerak lagi, Yong tarik ke luar kandang. Yong ambik parang kontong, lalu Yong belah perutnya.

Yong Dollah  : “Dari dalam perut ular itulah, Dik, ayam Yong.”

Yang hadir   : “Mengapa ayam, Yong?”

Yong Dollah : “Apa kalau adik tahu? Hah, dari dalam perut ular itu keluarkanlah satu-persatu ayam-ayam yang ditelan ular tadi.”

Yang Hadir   : “Jadi, Yong apakan ayam-ayam itu?”

Yong Dollah   : “Yong ini berisi (berilmu) dik! Ditakdirkan Tuhan semua ayam yang ditelan ular itu, hidup balik. Ade dalam reban ayam Yong sekarang ini!”

Yang Hadir   : “Sudah to ke manalah ular itu,Yong buang?

Yong Dollah   : “Yong buang ke kuala Sungai Bengkalis, di bawah pokok perepat”.

Sesuda itu barulah orang-orang heboh ika busuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *