Scroll ke bawah untuk melihat konten
Bahasa & Sastra

Menangkap Pelanduk-Cerita Yong Dollah

×

Menangkap Pelanduk-Cerita Yong Dollah

Sebarkan artikel ini
Yong Dollah. (Ilustrasi: budayamelayuriau.org)

Pada suatu kesempatan lain, duduk bersama-sama kawan akrab di tempat penjagaan (pos ronda).

Ketika itu, tempat penjagaan masih menghadap Bagan (kota Bagan Siapi-api, arah Barat Bengkalis). Yong Dollah memulai kisahnya yang lain.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Yong Dollah    : “Baru-baru ini Yong kan tak ada di daerah sini, makanya Yong tak dapat duduk-duduk di sini bersama Tuan-tuan, baru sekaranglah Yong dapat duduk rehat di sini.”

Pendengar      : “Patutlah, Yong tak pernah ada nampak duduk-duduk di sini. Kemana Yong pergi?”

Waktu itulah, Yong pergi ke pulau Padang. Waktu Yong pergi itu cuma bawa lampu picit (sinter), ubatnye (bateray) lima buah, panjang agak setengah depa, jauh makannye (sorot cahayanya). Yong pergi seorang sahaja, tak ada kawan Yong satu pun.

Yong Dollah    : “Di pulau Padang itu, Dik, sepi sekali. Tidak seperti di Bengkalis ini. Di kanan dan kiri jalan tak ada lampu, semak belukar sahaja yang ada”.

Jauh Yong berjalan sendirian. Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Yong jadi curiga. Yong berhenti dan berpikir sejenak. Yong rasa-rasakan memang ada sesuatu. Yong tahu, sebab Yong ada berisi. Lampu picit, Yong matikan. Sesudah Yong percaya betul ada sesuatu, baru lampu picit yong nyalakan balik. Ketika lampu picit Yong nyalakan balik itulah, Yong jadi terperengah. Sebab cahaya lampu Yong pas tersuluh mengenai sesuatu yang membuat Yong berhenti berjalan. Entah benda apa namanya Yong pun tak tahu. Semakin lama, benda itu makin mendekat pada Yong. Yong pun terus berpikir.

Baca Juga:  Putri Pinang Masak-Inderagiri Hulu

Yong Dollah    : “Apa bendalah ini gerangan, semakin lama makin mendekat, mengikuti gerak cahaya lampu picit Yong!”

Pendengar      : “Jadi, Yong!”

Yong Dollah    : “Adik, tahu? Rupa-rupanya binatang. Dari  situlah Yong baru tahu rupanya binatang ini suka pada cahaya api. Jinak-jinak Dik!”

Bukan main jinaknya binatang ini, begitu jinaknya, sampai-samai dapat Yong tangkap tangan begitu saja. Labih  dari dua puluh ekor Yong menangkapnya dalam sekejap. Binatang yang sudah yong tangkap,Yong kebat jadi dua, satu (satu ikatan dua ekor), lalu bawa balik ke Bengkalis.

Sampailah Yong  di sungai Bengkalis. Yong suruh jual binatang itu pada seorang peranakan Cina. Duit hasil berjualannya,  Yong bagi dua dengan peranakan Cina itu.

Pendengar I    : “”Ape nama binatang itu, Yong?

Pendengar II   : “Anak ayam hutan?”

Pendengar III : “Anak burung?”

Pendengar IV : “Babi hutan atau anak biawak, Yong?” 

Yong Dollah    : “Dikau manalah tahu! Sebab Yong yang  pergi, tentulah Yong yang tahu!”

Sekali inilah, barulah Yong tahu, kalau binatang pelanduk itu rupa-rupanya suka pada cahaya api.

Pendengar      : “Oooo…, haaa…, pelanduk. Kami pikir binatang apa namanya! Yong ini, ada-ada saja kisahnya. Kisah apa lagi yang agak ganjil, Yong?

Yong Dollah    : “Banyak lagi, kalau mike hendak mendengarnya!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *