Dari pelabuhan Vancofer kapal Yong berlayar lagi menuju ke Singapura. Di Singapura kami masing-masing dapat cuti, boleh mau pergi ke mana saja. Asalkan, bila kapal mau berangkat semua anak klasi (ABK) perlu ada di kapal, itulah perintah kapten kapal kepada kami.
Banyak, kawan-kawan gaduh tak berduit. Yong seorang saja yang tak gaduh soal duit. Sebab duit Yong masih masih banyak, sisa dibagi orang Jepun duit dari jual ikan di Jepun. Duit yang ada pada Yong, duit Jepun, lalu Yong tukar dengan duit Dollar Singapura. Kocek Yong banyak duit, Dik. Dari Singapura Yong naik bas menuju Johor. Dari Johor Yong naik pulak kereta api menyosoh sepanjang jalan Straait Stelamen Malaya.
Kereta api yang Yong naik itu tempat duduknya tidak empuk, alas duduknya nampak Yong terbuat dari kayu jati dari Jawa. Kalau Yong kenal dengan kayu yang ada di daerah kite. Singkat kisah, kereta api pun sampai di suatu tempat. Yong tak tahu negeri apa, dan mengape kereta api ini berhenti pulak di sini dengan semana-mana. Dalam pada itu Yong bertanya kepada kondektor-kondektor. Dia pun tak tau. Jadi tak dapatlah jawaban. Cuma ia menunjuk ke depan. Sesudah itu Yong ke luar dari dalam kereta api.
Yong Dollah : “Betul, betul, betul Dik, karena orang di depan padat ramai betul. Itulah maka kereta api tak dapat berjalan. Seramai itu Yong tidak nampak seorangpun yang memakai kopiah (peci). Jadi tak dapat Yong memberi salam.
Pendengar : “Jadi Yong, apa lagi yang Yong buat?
Yong Dollah : “Itulah Dik, sekali Yong tengok punya tengok nampak ada satu orang memakai kopiah. Pada dialah Yong memberi salam.
Yong lalu memberanikan diri. Yong kuwak orang-orang yang ada, orang-orang yang Yong kuwak itu tak berani bercakap. Ada seorang yang berani menjawab salam Yong, maka tahulah Yong, bahwa orang yang memakai kopiah dan menjawab salam Yong itu pastilah seagama dengan Yong. Lalu Yong tanya padanya ada apa ramai-ramai di situ.
Yong Dollah : “Mengapa kereta api tiba-tiba berhenti di sini, dan mengapa orang ramai-ramai di depan sana?”
Orang Berkopiah : “Itu, di sana”!
Orang yang Yong tanya itu tak dapat bercakap. Cuma dia menunjuk ke tempat orang ramai itu.. Sebab Yong pakai dinas Steurman II. Sampailah Yong di tempat yang dikerumuni orang ramai.
Yong Dollah : “Aduh, aduh, aduh! Betul, betul, betul! Apakan tidak, Dik. Sekali Yong tengok, hn-hn-hn, entah besar-entah tidaklah Dik, kangkung di negeri Gemas itu. Sampai sekarang ini kalau Yong ingat-ingat tak ada kangkung tandingan di mana pun dalam dunia. Puaslah Yong sampai di negeri orang di atas angin. Apalagi di negeri kita ini. Mana ada orang awak bertanam kangkung lain dari orang Cine.
Prndengar : “Bagaimana besarnya kangkung itu, Yong, sampai-sampai tikus dapat berlari di dalam lobang kangkung?”
Yong Dollah : Itulah, tentulah tuan-tuan jadi heran? Yong tidak heran karena sudah mengalami sendiri”.








