PADA zaman dahulu, tersebutlah sebuah kerajaan yang berdiri di tepi Sungai Siak. Kerajaan tersebut bernama Gasib yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Rakyatnya hidup rukun dan saling mencintai satu sama lain. Nasib mereka sangat diperhatikan oleh raja. Sikap raja yang demikian menumbuhkan rasa cinta dan pengabdian yang mendalam dari rakyat terhadap kerajaan. Tidak hanya rakyat, panglima, mentri, hulu balang dan semua penghuni istana juga menaruh perasaan yang sama.
Panglima Gimpam adalah seorang panglima kebanggaan kerajaan yang gagah perkasa, pemberani dan disegani dimana-mana. Panglima Gimpam beserta prajurit keraaan adalah kekuatan kerajaan. Tidak ada satupun kerajaan lain yang berani mencoba menaklukkan kerajaan gosip.
Raja Gasib dikaruniai seorang putri tunggal yang amat termasyur kecantikannya, bernama Putri Kaca Mayang. Rambutnya yang lurus tergerai, mata yang indah dan lesung pipit yang menghiasi dikala senyum membuat hati pemuda-pemuda yang memandang luluh dan menaruh cinta kepadanya. Namun demikian hak pernah satu pinanganpun yang pernah diterima raja. Semua Pemuda, Saudagar kaya, Raja atau Pangeran dari kerajaan lain merasa segan untuk menyampaikan hasranya. Hal ini dikarenakan Raja Gasib memiliki seorang Panglima yakni Panglima Gimpam yang gagah berani dan terkenal keperkasaannya.
Kabar akan kecantikan Putri Kaca Mayang juga terdengar oleh aja Aceh. Keinginannya untuk memiliki Putri Kaca Mayang tak terbendung lagi dengan keberaniannya Raja Aceh mengutus dua orang Panglimanya menghadap Raja Gasib untuk menyampaikan maksud dan tujuan Raja Aceh. Namun sayang niat tersebut ditolak oleh Raja Gasib, dengan perasaan kesal kembali ke Aceh.
“Ampun Baginda, berhari-hari kami menempuh jalan dengan maksud meminang Putri Raja Gasib, namun apa yang kami dapati berujung kecewa.” Kedua Panglima mengadu ketika menghadap Raja Aceh.
“Hah… kurang ajar, kurang apa lagi aku, aku memiliki segalanya, kekuasaan yang besar, dan berani-beraninya dia menolak pinanganku.” Ujar Raja Aceh marah.
“Panglima apa alasan Raja Gasib menolak pinanganku.”
“Hamba tidak tahu Tuan, Raja Gasib tidak mengatakan alasannya kepada kami.”
“Oh…. Begitu! Kita lihat nanti akan aku balaskan rasa sakit hatiku pada Raja Gasib
Raja Aceh sangat marah, kecewa dan marasa terhina sekali atas penolakan pinangannya terhadap Puteri Kaca Mayang. Guratan wajah dan emosinya tercermin ketika kedua panglimanya menghadapnya. Kemarahannya itu ia susun dalam strategi perang untuk menghancurkan kerajaan Raja Gasib.








