MUSA ISMAIL adalah seorang sastrawan (cerpenis, novelis, esais, dan penyair) dari Riau, Indonesia. Ia lahir di Pulau Buru Karimun, Kepulauan Riau, 14 Maret 1971 dan saat ini bermastautin di Bengkalis, Riau, Indonesia.
Musa Islamail merasa tidak pernah bermimpi menjadi penulis. Sejak SD, SMP, dan SPG, tidak ada keistimewaannya dalam menulis. Bahkan, menurut pengakuannya, ia merasa kesulitan merangkai kata-kata untuk dijadikan karangan.
Aktivitas menulisnya dimulai ketika mendapat tantangan dari dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Riau, pada dekade 90-an. Ketika itu, dosen bernama U.U. Hamidy (budayawan Riau) menawarkan nilai A kepada mahasiswa asalkan karyanya dimuat di koran. Ketika itu pula, dia berupaya menulis dengan harapan dimuat di media massa dan memperoleh nilai A.
Ternyata, tantangan sebagai motivasi dari dosennya itu telah menempa dirinya menjadi penulis. Meskipun tidak memperoleh nilai A karena tulisannya dimuat setelah proses kuliah dengan dosennya selesai, Musa Ismail mengaku sangat bersyukur. Tantangan dosen tersebut telah membentuk karakternya sebagai penulis. “Seingat saya, sekitar 17 hingga 20 tulisan, saya kirimkan ke Riau Pos. Setelah melewati proses, akhirnya dimuat juga. Sejak itulah, saya terus menulis. Tulisan awal saya berbentuk artikel atau esai. Tantangan dan proses itu sangat berharga,” begitu sikapnya. Sastrawan ini menamatkan SD di kampung halaman, SMPN 3 Tanjung Balai Karimun, SPGN Tanjungpinang (1990), dan Universitas Riau, FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1994). Kemampuan menulisnya semakin terasah setelah bergabung menjadi wartawan di Riau Pos pada akhir 1994 hingga akhir 1996.
Musa Ismail menulis sastra sejak bertugas sebagai guru di SMPN 1 Merbau pada 1997 di Desa Bandul. Ternyata, disiplin itu sangat berpengaruh terhadap proses menulis. Sejak di kampung ini, anak sulung dari Ismail dan Maimunah ini, menerapkan pada dirinya untuk menulis paling kurang satu jam dalam sehari atau paling sedikit satu halaman dalam sehari. Dengan meminjam mesin tik lusuh sekolah, dia merangkai kata hingga menjadi cerpen. Setelah lebih kurang tiga tahun di Desa Bandul, ia berpindah tugas di SMPN 2 Merbau di Desa Telukbelitung. Semangat menulisnya tak pernah luntur karena ia beranggapan bahwa menulis itu suatu kebutuhan. Selama bertugas di Desa Telukbelitung inilah, kumpulan cerpen pertamanya dibukukan berjudul Sebuah Kesaksian (Yayasan Pusaka Riau, 2002).
Pada awal 2003, Musa Ismail sekeluarga berpindah tugas ke Bengkalis, tepatnya guru di SMAN 3 Bengkalis. Aktivitas menulis terus dilakukan. Cakupan penulisannya bukan cuma cerpen, tetapi juga novel, puisi, dan esai sastra-budaya. Cerpen dan esainya terangkum dalam beberapa ontologi Anugerah Sagang 2000 dan antologi Cerpen pilihan Harian Pagi Riau Pos 2002 (Terbang Malam), (Magi dari Timur, 2003), (*Satu Abad Cerpen Riau, 2004), (Tafsir Luka, 2005), (Jalan Pulang, 2006), dan (Keranda Jenazah Ayah, 2007) dan beberapa antologi pada tahun berikutnya.
Di beberapa kesempatan, beliau pun mengikuti sayembara. Pada 2003, memperoleh Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Umum dengan judul Kemerdekaan yang ditaja oleh Majalah Budaya dan Sastra Tepak. Selanjutnya, pada 2005, esainya yang berjudul ‘’Novel Upacara Korrie Layun Rampan: Deskripsi Belenggu Adat: Spiritisme-Mitos dan Kemerdekaan’’ memperoleh penghargaan urutan 6 dari 20 besar dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang ditaja oleh Dirjen Manajemen Dikdasmen, Depdiknas. Tahun 2006, novelnya yang berjudul ‘’Cinta, Che Sera Sera’’ memperoleh Juara Harapan Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan yang ditaja oleh Pusat Perbukuan, Depdiknas. Tahun 2006, dia terpilih sebagai Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten (Peringkat I) dan Tingkat Provinsi Riau (Peringkat I), juga karena tulisannya.
Tahun 2007, cerpennya Hikayat Kampung Asap meraih Juara Harapan di Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR). Pada tahun yang sama juga, terbit buku kumpulan esainya berjudul ’’Membela Marwah Melayu’’ (UIR Press dan BKKI). Tahun 2008, novel Tangisan Batang Pudu (Gurindam Press, Pekanbaru) masuk nominasi Ganti Award. Tahun 2009, terbit kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut (Seligi Press, Pekanbaru). Tahun 2010, terbit kumpulan cerpennya berjudul Hikayat Kampung Asap (Seligi Press, Pekanbaru) dan di tahun yang sama, terbit pula novelnya Lautan Rindu (Mujahid Press, Bandung). Pada 2010, kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut memperoleh Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan.
Selain itu, dia pernah membacakan puisi dan cerpen pada kegiatan Temu Penyair se-Sumatera di Pekanbaru dan kegiatan Temu Sastrawan Nusantara. Penghargaan lain yang diperolehnya, yaitu Anugerah Pemangku Prestasi Seni dari Disbudpar Riau, 2013. Kumpulan cerpen keempatnya berjudul “Surga yang Terkunci” (Seligi Press, Pekanbaru, 2015). Puisinya tergabung dalam antologi bersama “Setanggi Junjungan” (FAM Publishing, 2016), Mufakat Air (2017). Pada 2017, karya cerpennya tergabung dalam antologi bersama “Matahari Sastra Riau”, 2017).
Karya-karya suami dari Isnawati, ini pun banyak memperoleh komentar dari kalangan sastrawan. Sastrawan/penyair Husnu Abadi mengatakan, Musa Ismail berhasil mengangkat riwayat kerusakan lingkungan di suatu sungai ke dalam novelnya melalui tokoh-tokohnya yang cukup segar dan berani. Melalui dialog-dialog dan alur cerita yang berliku, akhirnya pembaca dapat menemukan hikmah yang terpendam bagaikan seorang murid yang baru pulang dari berguru (novel Tangisan Batang Pudu).
Cerpenis Abel Tasman menilai, kehadiran cerpen ini tidak hanya menunjukkan eksistensi Musa Ismail yang tunak berkarya, tetapi juga menampakkan keragaman warna dalam karyanya. Novelis Olyrinson menambahkan, cerpen-cerpen Musa Ismail tetap terasa indah dan mengalir. Bagi saya, kata Olyrinson, selain sarat dengan pesan yang hendak disampaikan, cerpen-cerpen Musa juga menghibur dan lama mengendap dalam pikiran. Sebuah pencapaian yang berhasil dari seorang penulis (kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut).
Novelis Hary B. Koriun berkomentar bahwa cerpen-cerpen Musa Ismail adalah gambaran dari keheningan dalam memotret manusia dari berbagai sudut pandang. Musa memaksa kita untuk belajar memahami kembali apa -apa yang sebenarnya telah kita lakukan yang sering tak kita sadari. Lantas, cerpenis dan penyair M. Badri mengatakan, melalui cerpen, Musa Ismail mengajak kita bertualang menjelajahi lokalitas Melayu. Meskipun dalam bentuk karya fiksi, tapi kita bisa membaca idealisme dan dialektika kritis, terutama ketika mengangkat tema religius, realitas sosial, modal sosial, maupun ketimpangan sosial dalam masyarakat (kumpulan cerpen Surga yang Terkunci). Karya-karya ayah dari M. Iqbal Al-Raziq, M. Syazily Al-Raziq, dan M. Qushairie Assiddiqqie ini menyebar di berbagai media massa daerah dan nasional.
Sumber:
Elmustian Rahman, dkk. 2018. Ensikopedia Kebudayaan Bengkalis. Pekanbaru: Pemerintah Kabupaten Bengkalis.






