RUMAH LONTIK adalah rumah tradisional Melayu Riau dengan ciri khas atap yang dibuat melentik. Rumah lontik merupakan 1 dari 3 jenis rumah Melayu selain rumah limas dan rumah atap lipat. Jenis rumah ini tersebar luas di Lima Koto Kampar dan sebagian Rantau Kuantan dan Rantau Singingi.
Penamaan
Penamaan rumah lontik mengikuti bentuk tulang bubungan atap yang melentik ke atas dan kaki dinding bangunan yang melentik seperti pencalang atau lancang, yaitu perahu layar tradisional Melayu Riau. Sehingga, rumah ini disebut juga rumah lancang atau rumah pencalang.
Bentuk lancang terinspirasi dari kebiasaan penduduk Rantau Limo Koto Kampar yang membuat perahu dengan rumah-rumah perahu (disebut magon) yang hampir sama bentuknya dengan rumah kediaman mereka. Pada saat itu pembangunan rumah dilakukan disepanjang aliran sungai. Hal ini juga menggambarkan bahwa secara sosial ekonomi penduduk berorientasi dan bergantung dengan sungai.
Bentuk dan Ruang
Rumah lontik berbentuk panggung persegi panjang yang ditopang beberapa tiang penyangga. Bentuk panggung bertujuan untuk menghindari serangan binatang buas dan banjir. Rumah panggung juga menjaga privasi penghuni rumah rumah terutama kaum wanita. Hal ini disebabkan kaum wanita pada masa itu berpakaian seadanya (berkain kemban tanpa baju) di dalam rumah atau tidur-tidur di dalam rumah tanpa ada ruangan penyeka/pelindung. Kalau rumah rendah atau tidak bertiang sama sekali, keadaan itu akan kelihatan oleh orang yang lalu-lalang di depan rumah
Ruang rumah yang terdapat pada rumah lontik adalah ujung bawah, pangkal rumah, dan ujung tengah, kecuali Sompu terdiri dari 4 ruangan. Ruang ujung bawah dapat ditambah sesuai keperluan atau dibuat bangunan lain yang terletak terpisah tidak jauh dari ujung bawah.
Bawah rumah dapat dipergunakan sebagai tempat kandang ternak, tempat bertukang, tempat menyimpan kayu bakar untuk persiapan bulan puasa, tempat menyimpan perahu dan tempat bermain. Rumah panggung mengharuskan penggunaan tangga untuk bisa menaiki rumah. Jumlah anak tangga tersebut umumnya berjumlah lima, yang mengandung makna rukun Islam.
Ukiran dan Motif
Dinding luar rumah dihias dengan ukiran kaluk pakis yang ditempatkan pada bagian atas dari balok lantai atau pada pintu jendela. Setiap ukiran diselingi dengan kisi-kisi. Selain di luar ruangan, ukiran juga terdapat pada dinding pemisah antara pangkal rumah dengan ujung tengah yang menjadi interior ruangan.
Ukiran juga terdapat pada ambang bawah jendela yang menggunakan motif kaluk pakis. Jendela bermotif bunga hutan. Ukiran ini terletak pada ambang atas dari jendela dengan bentuk yang melengkung yang dibuat pada kayu keras dengan tebal 2 hingga 2,5 cm.
Tiang rumah terdapat papan yang diberi ukiran berupa rakukan dengan motif daun dan bunga yang terbuat dari papan tebal 5-8 cm berbahan kayu keras. Pada sepanjang kaki dinding pencalang diberi hiasan gandoari dengan kombinasi akar pakis atau kaluk pakis serta motif awan larat. Dinding sebelah luar miring balok kaki, dan dinding sebelah muka di samping dengan sudut-sudut dinding sehingga membentuk melengkung seperti perahu.
Ukiran pada kasau berbentuk persegi yang terbuat dari bahan kayu keras. Kayu kasau betina harus liat dan mudah dibentuk sehingga membentuk lengkungan tertentu. Pada bagian ujung kasau betina ini diberi ukiran berupa rakukan dengan motif akar-akaran
Ungkapan
Di dalam ungkapan, rumah lontik dijelaskan sebagai berikut:
Lontik rumah pada perabung
Lontik sepadan ujung pangkal
Tempat hinggap sulo bayung
Tempat bertanggam tanduk buang
Ungkapan lain mengatakan
Rumah bernama Rumah Pencalang
Diimbau juga rumah lancing
Pencalang berukir di kaki dinding
Lancing mengambang berseluk paku
Jalar menjalar akar rotan
Jalin berjalin pucuk pakisnya
Yang di muka disebut Gando Ari Jantan
Yang di belakang diimbau Gando Ari betina
Tanda rumah asalnya sampan
Tanda hidup di atas air
Tanda Melayu berbilang kaum
Ungkapan lain mengatakan
Kalau terdiri rumah lontik
Terdiri adat di dalamnya
Adat andiko empat puluh empat
Adat soko turun temurun
Di situ pusaka disalinkan
Di disitu gelar diturunkan
Di situ mamak dituakan
Di situ kemenakan dielokkan
Ungkapan-ungkapan di atas memberi petunjuk, bahwa rumah lontik adalah rumah sarat dengan lambang adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh anggota masyarakat. Bentuk bangunan yang berakar dari perahu atau sampan atau disebut lancing atau pencalang itu, menunjukkan budaya melayu yang hidup melekat dengat laut. Budaya tetap melekat kepada bangunan tradisional mereka walaupun mereka sudah ratusan tahun hidup menetap di darat.
1. H. Tenas Effendy dan Emmy Kadir. 2003. Ragam Hias pada Rumah Melayu Riau. Pekanbaru: Sebati Riau Art Gallery
2. 2005. Ornamen Bangunan Tradisional Melayu Riau. Pekanbaru: Konservasi Mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning. Pekanbaru.








