Scroll ke bawah untuk melihat konten
Adat & AdabLingkup MateriNilai & AzasUtama

Kesantunan dalam Bahasa Melayu

×

Kesantunan dalam Bahasa Melayu

Sebarkan artikel ini
Menjunjung Bintang. Masyarakat Inuman menjunjung bintang saat tradisi maantar anak pancar. (foto: budayamelayuriau.org)

Ukuran yang digunakan untuk menentukan santun tidaknya seseorang (dalam adat dan budaya Melayu) adalah nilai-nilai, norma-norma, hukum dan aturan-aturan yang: (1)  diturunkan Allah SWT, (2)  dirumuskan oleh manusia. Hal tersebut dinyatakan dalam ungkapan adat:

adat sebenar adat 
adat yang diadatkan 
adat yang teradatkan 

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Dari tindakan kebahasaannya, seseorang dapat ditentukan apakah ia tergolong orang yang santun atau tidak? Tindakan kebahasaan yang dikatakan santun itu, antara lain meliputi:

bercakap: adat bercakap mengandung adab 
berbual: adat berbual mengandung akal 
berbicara: adat berbicara berkira-kira 
berbisik: adat berbisik berbaik-baik 
berujar: adat berujar bertunjuk ajar 
berutur: adat bertutur menuruti alur 
berbincang: adat berbincang menuruti undang 
(Tenas Effendy, 2010: 21-22)

Tindakan berbahasa yang santun juga mencakupi kemampuan memilih kata (ketepatan bahasa dengan pikiran dan perasaan yang mau dikemukakan), dan kearifan merangkai kata. Dalam ungkapan Melayu disebutkan sebagai berikut:

tanda orang yang bijaksana
tahu memilih merangkai kata
tanda orang yang terpuji
bahasanya tepat pahamnya tinggi
tanda orang yang terbilang
bahasanya elok maknanya terang
tanda orang berpikiran luas
bahasanya teratur maknanya jelas
apa tanda orang bertuah
budinya halus bahasanya indah 

Dalam adat dan budaya Melayu, pemakaian bahasa dibedakan dalam empat tingkatan yaitu: 

1. Bahasa Mendaki  digunakan oleh orang muda terhadap orang yang lebih tua, atau orang yang lebih rendah kedudukannya terhadap orang yang lebih tinggi kedudukannya.
2. Bahasa Mendatar digunakan antara sama sebaya, atau yang berkedudukan setara.
3. Bahasa Melereng digunakan kepada orang semenda.
4. Bahasa Menurun digunakan oleh orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya, terhadap yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.

Baca Juga:  Adat dan Tingkatan Adat

Ini sejajar dengan tipe sikap afektif dalam hubungan sosial Orang Melayu yang berbunyi: “hormati yang tua, kasihi yang sebaya, sayangi yang muda.”

Berkenaan dengan itu, Tunjuk Ajar Melayu juga menyatakan: 

Yang disebut adat berbahasa:
tahu alur dengan patutnya 
tahu memilih kata mendaki 
tahu memakai kata mendatar 
tahu menyimak kata menurun 
supaya aib tidak tersimbah 
supaya malu tidak terdedah 
Apa tanda orang berbangsa 
bercakap tahu berbudi bahasa 
berkata arif dalam berbahasa 
bertutur bijak berkata-kata 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *