Scroll ke bawah untuk melihat konten
Adat & Adab

Mendoa Padang

×

Mendoa Padang

Sebarkan artikel ini
Menjunjung Bintang. Masyarakat Inuman menjunjung bintang saat tradisi maantar anak pancar. (foto: budayamelayuriau.org)

Mendoa Padang atau Doa Padang merupakan sebuah tradisi adat masyarakat Melayu Riau, khususnya di Kampar, Kuantan Singingi, dan sebagian Indragiri. Upacara ini dilaksanakan setelah proses pembukaan ladang yang dilakukan secara gotong royong (batobo) selesai, dan sebelum kegiatan menugal atau menanam benih dimulai. Dalam pandangan masyarakat Melayu, masa berladang tidak hanya sekadar urusan mencari nafkah, tetapi merupakan bagian dari siklus kehidupan yang selalu bergantung kepada ridha Tuhan dan keharmonisan sesama manusia.

Tujuan Adat dan Religius
Tujuan utama Mendoa Padang adalah untuk memohon keberkahan kepada Allah SWT agar benih yang akan ditanam tumbuh dengan subur, terhindar dari gangguan hama, dan membuahkan hasil panen yang bernas. Selain itu, tradisi ini juga berfungsi sebagai peneguhan kembali norma adat serta penyelesaian segala perselisihan yang mungkin terjadi selama proses batobo. Masyarakat percaya bahwa jika masih ada dendam, sakit hati, atau pertengkaran yang belum diselesaikan, maka hal itu dapat berdampak pada gagalnya benih yang ditanam. Karena itu, Mendoa Padang menjadi momen penting untuk memulihkan hubungan di tengah masyarakat, sehingga pekerjaan ladang dapat membawa kesejahteraan bagi semua.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Upacara Mendoa Padang memiliki tiga tujuan utama:
1. Tujuan Adat
Menanamkan kepada cucu-kemenakan falsafah adat Melayu:

    “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.”

    2. Tujuan Sosial dan Hukum Adat
    Menyampaikan kembali undang-undang adat berladang, pantangan, dan aturan kemasyarakatan agar dipatuhi selama satu musim berladang.

    Baca Juga:  Dikei

    3. Tujuan Religius
    Memohon kepada Allah SWT agar panen menjadi berlipat ganda, berkah, dan terhindar dari bencana.

    Fungsi Sosial
    Tradisi ini juga merupakan media rekonsiliasi sosial, karena selama batobo dapat muncul:

    • salah paham
    • perselisihan kecil
    • perasaan tersinggung atau iri
      yang diyakini dapat mengganggu kesuburan dan keberhasilan ladang apabila tidak diselesaikan.

    Maka Mendoa Padang berfungsi sebagai pemulihan hubungan antaranggota masyarakat demi keberlanjutan hasil pertanian.

    Pelaksana Upacara
    Pelaksanaan Mendoa Padang melibatkan seluruh struktur kepemimpinan adat, mulai dari penghulu, menti, dubalang, tuo banjar, hingga ninik-mamak dan cucu-kemenakan. Prosesi diawali dengan arak-arakan jambar godang, yaitu dulang besar berisi kue-kue yang menjadi simbol perdamaian dan kebersamaan. Arak-arakan ini diiringi bunyi-bunyian seperti rarak godang yang dimainkan sambil duduk. Setelah itu dipertunjukkan Tari Payung oleh anak-anak dari setiap kelompok tobo sebagai lambang kegembiraan menyambut musim baru berladang.

    Upacara melibatkan unsur kepemimpinan adat secara lengkap:

    Peran AdatFungsi
    PenghuluPemimpin upacara dan penetap aturan menugal
    MentiPenyampai pidato terkait sengketa sosial
    DubalangPenegak hukum adat dan pemberi sanksi
    Tuo BanjarPenghubung masyarakat tiap banjar
    Ninik-MamakPembimbing cucu-kemenakan
    Seluruh masyarakatPeserta, termasuk pemilik ladang dan anggota tobo

    Susunan dan Prosesi Upacara
    Salah satu bagian penting dari upacara adalah ritual carano, ketika para pemuka adat saling bersentuhan carano sebagai tanda penyatuan tekad dan persaudaraan di antara seluruh pelaku batobo. Kemudian seluruh jambar godang diserahkan kepada ninik-mamak untuk dimakan bersama sebagai simbol diterimanya perdamaian oleh seluruh pihak.

    Baca Juga:  Maikek Namo

    Dalam tradisi ini juga dilakukan penyembelihan sapi, biasanya yang berwarna kuning langsat sebagai harapan agar padi yang ditanam nanti menguning merata. Hewan berwarna hitam dianggap pantang karena dikaitkan dengan jembalang atau makhluk perusak tanaman. Daging hasil sembelihan kemudian dibagikan kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

    Pada malam hari, canang dibunyikan sebagai panggilan agar setiap rumah membawa jambar berupa nasi, gulai, dan kue yang diletakkan di atas dulang ditutup kain batik untuk dibawa ke tempat upacara. Keesokan harinya masyarakat berkumpul kembali, dan acara memasuki bagian inti berupa pembacaan pepatah-petitih adat serta penyampaian aturan berladang yang harus diikuti selama satu musim ke depan. Dalam momen ini, menti dan penghulu juga menyelesaikan segala sengketa antaranggota tobo, terutama yang berkaitan dengan pergaulan selama bekerja bersama di ladang.

    Setelah semua nasihat dan aturan adat disampaikan, doa dan tahlil dipimpin oleh alim ulama. Inilah puncak spiritual upacara sebagai penyerahan seluruh usaha ke tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kegiatan kemudian ditutup dengan sembah nasi atau makan bersama, sebuah simbol kesetaraan dan kebersamaan. Anak-anak, orang dewasa, hingga para pemuka adat duduk berhadap-hadapan dan menyantap hidangan yang sama tanpa memandang pangkat dan kedudukan.

    Prosesi dilaksanakan dalam dua hari (siang dan malam).
    Sesi Hari Pertama
    Arak-arakan Jambar Godang

    • Membawa talam berisi kue sebagai simbol perdamaian
    • Diiringi rarak godang (musik tradisional duduk)
    Baca Juga:  Fungsi dan Jenis-jenis Tepak Sirih

    Pertunjukan Tari Payung
    Dibawakan oleh anak-anak dari setiap tobo sebagai lambang kegembiraan.

    Ritual Carano
    Penghulu – menti – dubalang – tuo banjar:
    → bersentuhan carano sebagai lambang penyatuan hati

    Penyerahan Jambar Godang kepada ninik-mamak
    → menandakan diterimanya perdamaian antar tobo

    Penyembelihan Sapi/Jawi
    Jenis ternak dipilih secara simbolis:

    Warna hewanMaknaStatus
    Kuning langsatHarapan buah padi kuning merataDipilih
    HitamWarna jembalang tanah / hantu hutanPantang

    Setelah penyembelihan:
    Tabuh dibunyikan → memanggil masyarakat untuk bapokok tangga (pembagian daging)
    Disebut adat “potong sapi pakaian naik”:
    → dari mamak turun ke kemenakan

    Canang dibunyikan pada malam hari
    → panggilan untuk membawa jambar: nasi, gulai, kue-kue dalam dulang batik

    Sesi Hari Kedua (Puncak Upacara)

    Arak-arakan jambar oleh kaum perempuan
    Biasanya pukul 15.00 sore

    Pembacaan Pepatah-Petitih
    Isi utama:

    • catatan pergaulan selama batobo
    • penyelesaian sengketa muda-mudi
    • meneguhkan norma tingkah laku

    Pengumuman Hukum Tanah dan “Pakaian Naik/Turun”

    IstilahMakna
    Pakaian NaikAturan dari penghulu ke tuo banjar (masa menanam)
    Pakaian TurunMasa padi dituai kembali ke rumah

    Penegakan Aturan Menugal
    Tidak boleh mendahului hari yang ditetapkan.

    Sanksi adat bagi pelanggar:
    Tajak, cangkul, dan tugal disita dubalang dan dibawa ke balai adat
    → dikembalikan setelah pelaku meminta maaf kepada penghulu

    Pidato Menti
    Menyelesaikan konflik sosial seperti:

    • salah pandang antara bujang dan gadis
    • persinggungan fisik pasangan
    • cemburu antar tobo

    Doa dan Tahlil dipimpin alim ulama
    → inti spiritual upacara: memohon keberkahan

    Sembah Nasi – Makan Bersama
    Simbol persatuan dan kesetaraan, tanpa membedakan status.

    Urutan prosesi:

    1. Pangkal tuo mengajak induk mudo membagikan nasi
    2. Jambar godang dibawa ke tengah
    3. Dihidangkan, dimakan, tanpa menjadi hutang

    “Rusa ditangkap, daging diberi sekampung – tiada yang berhutang pada yang empunya.”

    Makna Simbolik Utama

    SimbolMakna Budaya
    Jambar GodangPerdamaian, persaudaraan
    Tari PayungSuka cita dan perlindungan dari Allah
    Hewan kurbanPembersihan dan kesuburan tanah
    CaranoKesepakatan dan musyawarah
    Makan bersamaHilangnya hirarki sosial dan dendam

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *