Scroll ke bawah untuk melihat konten
Adat & Adab

Fungsi dan Jenis-jenis Tepak Sirih

×

Fungsi dan Jenis-jenis Tepak Sirih

Sebarkan artikel ini
Tepak Sirih. (foto: budayamelayuriau.org)

Tepak sirih adalah tempat meletakan duan sirih, pinang, kapur, dan sejemput tembakau dalam tradisi makan sirih beradat. Tepak sirih dibuat dari beberapa bahan seperti tembaga, kuningan, perak, kayu atau rotan. Di dalam tepak sirih terdapat perlengkapan makan sirih berupa 2 copuk, 1 kupuran, dan 1 kacip pinang.

Tepak sirih digunakan dalam berbagai upacara-upacara tradisional seperti menemui pucuk adat, menjemput (undangan) minsalnya dalam pernikahan, memulai percakapan, serta menyelesaikan permasalahan-permasalahan adat dan anak kemenakan.

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Terdapat beberapa istilah yang sering digunakan dalam tepak sirih misalnya menyorong tepak berarti mengulurkan tepak kepada orang yang akan diajak bicara atau kepada orang yang akan diberi makan sirih. Sorong menyorong tepak yaitu istilah untuk menyebutkan tata cara adat yang menggunkan tepak sebagi penghormatan pada orang yang diajak berbicara.

Jenis-jenis Tepak
Jika dilihat dari penggunaan di dalam pernikahan, tepak sirih dapat dibagi dalam beberapa jenis yaitu tepak perisik, tepak peminang, dan tepak pengikat janji/tepak tanda. Ketiga jenis ini dibedakan dari tatacara menyusun sirih dan isi di dalam tepak.

Tepak Perisik
Tepak perisik dilengkapi dengan pinang, gambir, kapur, dan tembakau. Tepak perisik berentuk segi empat yang berisi pinang bambu yaitu pinang dimasak dengan bumbu tertentu, dimasukkan ke dalam cembul, kecuali sirih. Daun sirih sebanyak 3 atau 7 lembar, dan setiap lembar di lipat dua, kemudian dilipat  tiga dan bagian tengah daun tersebut disimpul yang melambangkan amat rahasia. Ulu kacip dan gagang sirih disorongkan ke arah pihak laki-laki. Seandainya salah akan menimbulkan aib yang memalukan.

Baca Juga:  Maikek Namo

Tepak Peminang
Tepak peminang disebut juga dengan tepak induk atau tepak keras. Isi tepak peminang sama dengan tepak perisik, namun bedanya pada susunan daun sirih. Sirih terdiri dari lima ikat, setiap ikat lima lembar jadi dua puluh lima lembar. Ikatnya disebut simpai atau pengebat sirih. Letaknya telungkup dengan gagangnya menghadap ke ulu kacip, yang berarti rendah diri, berserah diri. Pinangnya bulat yang dikupas kulitnya sampai licin dan bersih. Gambir dan tembakau dibentuk bulat, artinya bulat hati memegang janji. Tertelentang berarti menyerah diri.

Tepak Pengikat Janji/Tepak Tanda
Tepak pengikat janji disebut juga dengan tepak antar tanda. Tepak ini digunakan saat antar tanda dalam upacara perkawinan. Di dalam tepak terdapat 2 buah copuk, 1 buah kupuran, daun sirih, pinang, tembakau dan kacik pinang. Di dalam tepak juga disertakan mas kawin atau mahar berupa emas, suasa, atau perak.

Dengan melihat isi tepak, maka dapat diukur besar atau kecilnya kenduri yang akan dilaksanakan. Jika berisi cincin emas maka kendurinya besar dan dilakukan pemotongan kerbau, bila isinya suasa maka kendurinya menengah dengan memotong kambing, bila isinya perak kendurinya kecil.

Ketentuan dalam pengaturan daun sirih di dalam tepak tanda adalah berikut:

  • Ujungnya saling bertemu.
  • Ditindih  dengan bunga cengkeh yang terlebih dahulu dicelup ke kapur sirih.
  • Penyebutan susun sirih  bertemu ujung berarti telah tercapai ikatan.
  • Gambir dibentuk seperti bunga.
  • Pinang tua sebutir diukir kulitnya menyerupai sanggul, disebut pinang bersanggung.

Selain ketiga jenis tepak di atas, juga dikenal beberapa tepak lainnya yaitu tepak penyapa yaitu yang digunakan saat menyapa atau menyambut tamu yang datang ke rumah. Tepak ini berbentu kecil berkaki, diletakkan di depan tamu jika ingin mencicip pinang atau sirih yang ada di dalamnya. Tepak penyapa juga digunakan saat menyambut pengantin laki-laki di dalam tabir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *