DAHULU kala, ketika Indragiri belum lagi menjadi negeri adalah seorang peladang yang tinggal di pinggir hutan bersama isterinya. Setelah beberapa tahun berumah tangga, kedua suami itu dikarunai oleh Tuhan seorang anak perempuan.
Peladang itu tidak segera memberi nama anak itu. Beberapa kali isteri peladang itu bertanya kepada suaminya siapa anak nama mereka itu, tapi si suami selalu mengelak memberikan jawaban.
“Sudah mulai merangkak anak kita,” kata isteri peladang itu suatu hari, “akan tetapi belum juga abang beri namanya”.
“Pergilah kau gulaikan pelanduk yang kujerat tadi,” kata suaminya mengelak memberikan jawaban.
Tak berapa lama kemudian, berkata lagi si isteri, katanya, “Sudah mulai tertatih-tatih anak kita melangkah, tapi belum juga abang berikan dia nama.”
“Pergilah kau buatkan aku air kahwa, sedap dimakan dengan ubi rebus,”peladang itu berusaha mengelak memberikan jawaban atas pertanyaan isterinya.
Beberapa lama sesudah itu, pada suatu hari isteri peladang itu berkata pula, “Sudah mulai berlari anak kita, tapi belum juga abang berikan namanya”.
Peladang itu pun diam, tidak terdengar jawaban apapun kepada isterinya. Ia lalu berbaring terlentang di tengah rumah, sambil menghitung-hitung kasau pondoknya. Tak berapa lama kemudian ia pun tertidur dengan nyenyak. Isteri peladang itu mendengar suara dengkur suaminya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sementara itu, anak perempuan mereka yang sudah mulai pandai berlari tapi belum lagi bernama itu pergi ke tingkap dan melihat elang terbang berputar-putar di sela-sela pelepah kelapa.
Anak itu mendengar ibunya mengulang-ulang nyanyian yang terus diajarkan kepada anaknya membuka dan menutup genggaman tangan, bunyinya:
Pak cokok genggam gamit
Pak Sawal hamba raja
Minta Cekur diberi kunyit
Buat obat ayam buta
Ketika itu si peladang bermimpi. Dalam tidurnya itu datanglah seorang tua berpakaian putih, beserban putih dengan misai dan janggut yang juga sudah memutih. Orang tua itu berdiri tercegat di depan peladang itu dan berkata, “Hendaklah engkau beri nama anakmu Siti Janilun, karena elok parasnya, baik budi bahasanya, sopan santun dan setia kepada suaminya kelak”. Lalu orang tua itu pun lenyap seperti ditelan bumi.








