Scroll ke bawah untuk melihat konten
Pakaian Melayu

Pakaian Harian Melayu Riau

×

Pakaian Harian Melayu Riau

Sebarkan artikel ini
Pakaian harian. (foto: budayamelayuriau.org)

PAKAIAN HARIAN adalah pakaian yang dipakai oleh orang Melayu setiap harinya, baik masa kanak-kanak, remaja, orang setengah baya maupun orang tua. Pakaian harian digunakan untuk melaksanakan berbagai kegiatan harian, baik untuk bermain, ke ladang, ke laut, di rumah maupun kegiatan dalam kehidupan di masyarakat.

Berdasarkan pemakainya, pakaian harian dikelompokkan dalam beberapa bagian, yaitu:

Advertisement
Scroll ke bawah untuk melihat konten

Pakaian Harian Masa Kanak-kanak Laki-laki
Pakaian harian anak masa kanak-kanak kita kenal dengan istilah baju monyet yang dipakai oleh anak-anak lelaki. Kalau dia sudah meningkat besar dia memakai baju kurung teluk belanga atau baju kurung cekak musang. Ada kalanya memakai celana setengah lutut, memakai kopiah atau ikat kepala dari kain empat persegi yang dilipat untuk menghindarkan sengatan binatang yang berbisa, memakai kain samping ada yang dikenakan secara utuh, ada pula yang dibelitkan di pinggang ataupun disandang dibahu. Apabila ia pergi sholat dan mengaji ke surau atau mesjid, ia memakai sarung dan kopiah. 

Pakaian Harian Masa Kanak-kanak Perempuan
Pakaian harian anak perempuan menggunakan baju langsung (baju dan rok menyatu) yang terbuat dari bahan katun. Selain itu, juga memakai celana panjang yang tertutup roknya. Bagian kepala menggunakan kerudung sarung yang menggunakan pengikat. Bila pergi mengaji ke mesjid atau surau, ia menggunakan baju kurung atau baju gembang dan mengunakan kerudung.

Baca Juga:  Baju Kebaya Labuh

Pakaian Harian Dewasa (Akil Baligh) Laki-laki
Laki-laki dewasa yang baru akil baligh memakai baju kurung cekak musang atau baju kurung teluk belanga, bertulang belut ditambah dengan kain samping yang diikat pada pinggang dan memakai kopiah atau destar (tanjak). Kain samping dipakai ketika ia hendak melaksanakan sholat ketika ke mesjid atau surau. Cara memasangnya sama dengan mengenakan kain sarung. Hanya saja, kain samping dipasang sesuai aturan yang dikenal juga sebagai penanda bujang. Tepi kain samping bila dikenakan mesti berada di atas lutut (bujang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *