Tembikar merupakan kerajinan tradisional masyarakat Melayu yang dihasilkan dari tanah liat yang dibakar dan digilap. Sejak zaman prasejarah, tembikar digunakan sebagai wadah air, makanan, serta penyimpanan bahan makanan tahan lama seperti jeruk dan pekasam. Pada masa lalu, tembikar juga dijadikan tempat menyimpan benda berharga seperti emas dan permata.
Selain kegunaan domestik, tembikar memiliki peranan penting dalam adat dan upacara. Dalam adat istiadat kerajaan Melayu, tembikar digunakan sebagai wadah air bunga tujuh geluk dan air tujuh batil dalam prosesi persiraman raja atau sultan. Dalam kepercayaan tradisional, tembikar digunakan dalam upacara perasapan dan perembunan yang berkaitan dengan pengobatan serta ritual kesucian.
Sejarah dan Persebaran
Artefak tembikar primitif Melayu ditemukan di berbagai wilayah Asia Tenggara, antara lain:
- Semenanjung Tanah Melayu: Gua Cha (Kelantan), Bukit Tengku Lembu (Perlis), Bukit Tambun (Perak)
- Kepulauan Nusantara: Borneo, Sumatra, Jawa, Bali, Madura, Sumbawa, Sulawesi
Di Riau, pecahan tembikar banyak ditemukan di tepi sungai Kampung Langgam yang diyakini sebagai bekas kawasan pelayaran kuno.
Selain produksi lokal, ditemukan pula tembikar dari luar yang menunjukkan pengaruh Dinasti Sung, Yuan, dan Ming China. Namun demikian, perajin Melayu tetap mempertahankan ciri lokal dan tidak meniru bentuk asing secara langsung.
Pusat Pembuatan
Daerah penghasil tembikar tradisional di kawasan Meayu di antaranya adalah:
- Kechor (Perlis)
- Sungai Puyu (Seberang Perai)
- Alor Merah (Kedah)
- Beberapa wilayah di Kelantan, Terengganu, Pahang, Negeri Sembilan, Melaka dan Perak
(Perak — khususnya Lenggong, Kerian, Sayong, dan Pulau Tiga — menjadi pusat pelestarian tembikar warisan)
Proses Pembuatan
- Bahan: tanah liat berkualitas baik, terutama dari endapan busut dan pinggiran sungai.
- Pengolahan tanah: dikeringkan → ditumbuk halus → diayak → dicampur air → diperam selama tiga hari → diuli hingga liat.
- Pembentukan: teknik gelung secara manual, dibantu pinggan ayan/capah.
- Pengeringan: dijemur 2 hari sebelum pembakaran.
- Pembakaran: teknik tanur dedah dengan empat metode
→ salai, timbunan sekam, diang, tambun. - Penyelesaian akhir: digosok batu lintar atau disapu damar untuk memperhalus permukaan.
Ragam Hias
Ragam hias dibuat sebelum pembakaran, menggunakan teknik:
- Tekap/tekan (batu kesat, kulit siput, anyaman)
- Gores, takik, ukir
- Tempel (motif tanah liat tambahan)
- Tebuk dan lubang (khusus fungsi ritual)
- Catan warna alami (merah/batu kawi dan putih/batu kapur)
Dua kategori motif utama:
- Geometri: garis silang, titik, tulang ikan, pucuk rebung, potong wajik, dll.
- Organik: daun, bunga, sulur bakung—lebih dekat pada ukiran kayu Melayu.
Bentuk dan Kegunaan
Tembikar Melayu memiliki variasi bentuk dan fungsi:
Jenis Fungsi Periuk, belanga, kukusan Memasak Labu tanah, labu air (Sayong & Pulau Tiga terkenal) Menyimpan air, menjadikannya lebih sejuk Geluk, buyung, batil, gayung Menyimpan dan mencedok air Bekas perasapan Membakar kemenyan dalam upacara Bekas perembunan Menakung air embun untuk ritual Bekas bunga, bekas abu rokok Dekorasi dan kegunaan baru
Bentuk labu tanah merupakan ikon tembikar Melayu—mewakili kesinambungan warisan tradisi hingga kini.
Rujukan:
Dewan Pustaka dan Bahasa. 1999. Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu, edisi kedua cetakan pertama, Selagor: Dewan Bahasa dan Pustaka
Elmustian Rahman, dkk. 2012. Ensiklopedia Kebudayaan Melayu Riau. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau.
Elmustian Rahman, dkk. 2018. Ensiklopedia Kebudayaan Bengkalis. Pekanbaru: Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan Universitas Riau.







